Kegiatan Kemahasiswaan

Tausiah Jum'at "Membudayakan Silaturahmi"

Surel Cetak PDF

Terlepas dari masalah kaya atau miskin, pandai atau setengah pandai, tinggi atau rendah jabatan, kita harus memperhatikan masalah ziarah atau silaturahmi tersebut. Meskipun perjalanan yang harus ditempuh untuk bersilaturahmi jauh dan sulit tapi kita juga hendaknya tetap berusaha, apalagi kalau jaraknya hanya dekat dan mudah dijangkau untuk bersilaturahmi.

Silaturahmi “yang baik” sebenarnya ialah dengan datang sendiri dan tidak dengan perantaraan kartu yang bertuliskan beberapa kalimat atau gambar-gambar, apalagi kalau gambarnya kurang sesuai dengan norma. Dengan mengirim kartu seperti itu terkadang pengirim merasa lebih baik dan lebih praktis sehingga merasa tidak perlu lagi untuk bersilaturahmi kepada orang yang telah dikirim kartu tersebut.

Iedul Fitri sebagaimana diterangkan di atas, apakah do’a atau taubat seseorang itu akan diterima hanya cukup dengan mengucapkan kalimah istighfar saja ? Jika terhadap huququllah atau hak-hak Allah , insya Allah telah cukup dengan seperti itu, asal saja disertai dengan penyesalan atas dosa yang telah dilakukan dan dibarengi dengan niat tidak mengulang perbuatan tersebut. Akan tetapi terhadap huququl abdi, tidak cukup hanya seperti itu, tetapi harus disertai keridhaan yang bersangkutan.

Dalam hubungannya dengan ini, maka pada waktu kita melakukan silaturahmi apalagi dalam suasana Iedul Fitri, disamping saling memaafkan hendaknya juga meminta dihalalkan atau direlakan atau halal bi halal, terhadap hal-hal yang berkaitan dengan huququl abdi atau hak adami. Sebab bahagianya seseorang itu, ditentukan pula oleh beres atau tidaknya dalam memenuhi hak-hak adami.

Pelanggaran terhadap hak-hak adami dapat menghalangi untuk bisa diterima taubat dan dikabulkan do,a seseorang. Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah pada suatu ketika setelah membacakan beberapa ayat lalu berkenan menceritakan kisah seseorang dalam keadaan serba seperti wali yang ahli siasah, merantau dan seorang Ibu berdo’a : “Ya, Rabbi, Ya Rabbi, tetapi makanan dan minuman serta pakaian adalah dihasilkan dari barang haram. Terhadap orang seperti ini Nabi berkomentar: Bagaimana mungkin do’a nya dikabulkan”

 

Tausiah Jum'at "Keutamaan Bersilaturahmi"

Surel Cetak PDF

Selama sebulan kita berpuasa Ramadhan dan diakhiri Idul Fitri; kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, apakah puasa kita benar-benar berpengaruh pada keadaan dan jiwa kita sebagai perisai atau tameng terhadap nafsu yang sering menyesatkan kehidupan kita ? sesudah kamu diwajibkan berpuasa agar bertaqwa. Benarkah kita sudah menjadi orang yang bertaqwa ?

Tazaawur atau saling berziarah merupakan cara yang aling praktis untuk bersilaturahmi, dan sesuai dengan adab Islam, sebab dengan tazaawur tersebut akan kita dapatkan beberapa keutamaan disamping juga mempererat hubungan dan ukhuwah dengan mereka yang kita ziarahi atau kita kunjungi itu. Rasulullah s.a.w. bersabda :

(Bukankah sebaiknya kalian saya tunjukan suatu pekerjaan yang bila kalian kerjakan maka menjadi saling berkasihan, yakni, ratakanlah hormat dan salam antara sesama kalian). Salah satu ciri dari seorang Muslim, bila mereka saling bertemu dengan sesamanya akan mengucap kalimat salam. Namun, mengapa tata adab Islam ini nampak banyak dilupakan oleh sebagian kaum Muslimin sendiri, bahkan ada yang berusaha mengganti kalimat salam dengan kalimat-kalimat lain diluar tuntunan Islam, sehingga arti salam itu hilang.

Atau keutamaan berjabat tangan, seperti tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Barra’ bahwa Rasulullah bersabda :

(kedua muslim bertemu dan berjabat tangan , pasti dosa mereka diampuni sebelum keduanya berpisah). Berjabatan tangan yang dimaksud adalah berjabatan tangan secara Islam, sebagaiman yang diajarkan Rasulullah s.a.w.

Sesungguhnya masih banyak fadhilah-fadhilah silaturahmi, sedang apa yang sempat dikemukakan di atas hanyalah sebagai gambaran saja. Dengan demikian jelaslah, bahwa bersilaturahmi dan saling kunjung-mengunjungi sangat bermanfaat dan penting sekali. Namun demikian kita masih sering melihat sebagian dari kita yang merasa enggan bahkan tidak mau berziarah, bersilaturahmi atau saling kunjung-mengunjungi, melainkan lebih senang tetap tinggal di rumah , bagaikan ka’bah yang selalu di kunjungi banyak orang, tapi tidak perbah berkunjung. Lebih dari itu, bahkan ada yang merasa akan jatuh dengsi jika sampai berkunjung ketempat tentangga , kerumah sanak family atau ke rumah yang pernah menjadi gurunya. Sikap seperti ini patut disayangkan, apalagi kalau sampai dimiliki oleh seorang pemimpin yang menjadi tauladan, stidak-tidaknya bagi yang dipimpin, atau pendidik yang akan ditiru oleh anak didiknya.

 
Halaman 4 dari 8